Tempat Bersejarah

Informasi Haji dan Umrah

    Tempat-Tempat Bersejarah di Kota Makkah (1)




    Rindu ke Baitullah – Ada beberapa tempat bersejarah di Makkah yang merupakan tempat kejadian beberapa 
    peristiwa keislaman pada zaman Nabi SAW. Banyak sekali diantara para peziarah yang datang ke Tanah Suci tertarik untuk mengunjunginya. Namun perlu dipahami, tempat-tempat tersebut tidaklah mempunyai keutamaan seperti Masjidil Haram yang digunakan untuk tawaf atau shalat di dalamnya.

    Jadi, orang yang mengunjungi tempat-tempat itu untuk sekadar mengenang peristiwa atau mengambil pelajaran darinya. Hal tersebut tidaklah dilarang jika hanya sebatas untuk bertamasya dan mengenang peristiwa sejarah. Sedangkan orang yang mengunjunginya untuk tujuan beribadah dan melakukan beberapa ritual haji di sana, hal inilah yang dilarang. Apalagi sampai menganggap bahwa mengunjungi tempat-tempat tersebut adalah suatu keharusan dan bahagian dari manasik haji. Atau sampai berlamassuh dan tabarruk (meminta berkah melalui wasilah tempat tersebut). Hal ini tentu sangat melenceng dari sunah Nabi SAW. Tindakan lamassuh dan tabarruk selain di Baitullah merupakan bid’ah yang munkar, yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun dari para sahabat maupun tabi’in. Sedangkan berdoa kepada selain Allah, meskipun kepada pemimpin dan pamungkas para rasul, itu merupakan tindakan yang disepakati oleh para ulama sebagai syirik akbar. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari melakukan hal-hal tersebut.

     Menurut catatan sejarah, tempat-tempat bersejarah yang berada di kota Makkah tersebut di antaranya:

    1.       Tempat kelahiran Rasulullah. 
       
          Dari sisi historis, disebutkan Beliau SAW dilahirkan pada Tahun Gajah, yaitu 53 tahun sebelum hijrah. Tempat yang bernama Syi’ib Abi Thalib yang sekarang terkenal dengan Syi’ib Ali adalah tempat yang telah diubah menjadi sebuah perpustakaan. Pembangunan perpustakaan tersebut dilakukan Pemerintah Arab Saudi yang bertujuan menghindarkan orang-orang yang datang untuk tujuan bertabarruk dan melakukan hal-hal bid’ah di sana.

    2.       Rumah Siti Khadijah RA
          rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg (400×298)
          Terletak di kampung Qusyasyiah. Tempat tersebut sekarang di pasar Sugh yang telah diubah menjadi sebuah sekolah putri.

    3.       Gua Hira. 
          
          Tempat ini berada di puncak gunung Hira. Di sanalah turun wahyu pertama kepada Nabi Saw.
    4.       Masjid Jin.
          
          disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa konon bangsa Jin berkumpul di sana dan Nabi SAW menyampaikan risalah dan berdakwah kepada mereka.

    5.       Masjid Syajarah 
          
          berada di sisi masjid jin, menyertai Masjidil Haram. Para sejarawan Makkah meriwayatkan beberapa hadis yang menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah memanggil sebatang pohon, lalu pohon itu mendatangi beliau dengan cara akar-akarnya berjalan di dalam tanah. Kemudian beliau memintanya untuk bersaksi bahwa belum adalah seorang Nabi, maka dia pun bersaksi. Selanjutnya beliau menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya semula, maka dia pun kembali.

    6.       Gua Tsur. 
          
          Gua yang sangat masyhur tersebut adalah gua yang dipergunakan Rasulullah SAW untuk bersembunyi ketika Beliau berhijrah ke Madinah.

    7.       Masjid Aqabah,
          
          yaitu tempat Rasulullah SAW melakukan baiat terhadap kaum Anshar, sebelum beliau hijrah.
    8.       Masjid Fath,
          yang diklaim oleh para penduduk daerah Jurhum bahwa di masjid merekalah Rasulullah SAW dahulu melakukan shalat pada malam Fath (penaklukan Kota Makkah)

    9.       Muttakak,
          
          yaitu sebuah tempat di Ajyad kecil.
    10.   Masjid Tariim, 
          
          tempat di mana Aisyah RA memulai umrah atas perintah Rasulullah SAW.
    11.   Masjid Dzi Thuwa
          
          di Jarwal yang masih tetap dikenal. Sumur Thuwa banyak dikunjungi orang, sementara masjidnya hanya dikenal melalui naskah-naskah, sehingga orang awam tidak banyak yang mengetahuinya.
    12.   Masjid An-Nur,
          yang diklaim bahwa Rasulullah SAW pemah melakukan shalat di sana.
    13.  Masjid Rayah di Gazza.
          
          Lokasinya berhadapan dengan syi’ib Amir. Tempat ini  banyak disebut di dalam sejarah Kota Makkah.
      


    Masjid Pertama di Kuba dan Tanda Pelaut Muslim Temukan Amerika

    Bangunan tersebut didirikan tepat di mana Christopher Columbus disebutkan pernah melihat masjid berdiri di Kuba beberapa abad yang lalu.
    Rindu Ke Baitullah- Pemerintah Kuba menyediakan sebidang tanah untuk pembangunan masjid di Havana. Bangunan itu didirikan tepat di mana Christopher Columbus disebutkan pernah melihat masjid berdiri di Kuba beberapa abad yang lalu.

    Tanah seluas 2 hektar tersebut terletak di distrik Havanan Lama dan siap untuk dibangun masjid di atasnya, seperti yang diusulkan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pekan lalu.
    "Pembangunan masjid itu merupakan proyek prioritas kami dan itu terwujud berkat kunjungan bilateral muslim Turki dan Kuba," Mustafa Tutkun, pejabat di Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet) kepada Daily Vatan, pekan kemarin.

    Ditambahkan Tutkun, Diyanet telah bernegoisasi soal kemungkinan kerja sama pembangunan masjid antara pemerintah Kuba dan Turki. "Tanah untuk pembangunan masjid bahkan sudah disediakan."

    Mengenai konstruksi dan struktur masjid, Tutkun mengatakan desainnya akan diambil dari Masjid Ortakoy di Istanbul. "Kami akan membangun sebuah masjid yang mirip dengan Masjid Ortakoy."

    Sementara itu untuk dana pembangunan masjid, Diyanet sudah menyiapkannya. Tapi pemerintah Kuba meminta negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang menyiapkan dananya.

    "Kami sebenarnya sudah siap untuk mendanai pembangunan masjid tersebut," kata Tutkun.
    Rencana pembangunan masjid pertama di Kuba itu telah diumumkan pekan lalu oleh Erdogan, yang menyebut bahwa daratan Amerika ditemukan oleh pelaut muslim 300 tahun sebelum ekspedisi laut Christopher Columbus.

    Erdogan mendasarkan pernyataannya itu pada sebuah buku harian Columbus yang mengatakan ada masjid di sebuah bukit di Kuba. Namun klaimnya itu justru jadi bahan ejekan dunia Barat dan beberapa media Turki.

    Tak terima, Erdogan balik menyerang dengan mengatakan muslim memang benar-benar telah menemukan Amerika sebelum Columbus. Dia juga menyebut yang mencemoohnya adalah sekelompok orang yang tidak punya kepercayaan diri.

    Erdogan bahkan mendesak sekolah-sekolah di Turki untuk mengajarkan tentang kehebatan ilmuwan-ilmuwan muslim. (Dream.co.id)

    Menguak Misteri Heracleion, Kota Bawah Laut Mesir

    Inilah kota legendaris yang tenggelam di dasar Laut Mediterrania 1.200 tahun silam. Kota ini berabad-abad hanya menjadi legenda, sebelum akhirnya ditemukan pada tahun 2000.
    Rindu Ke Baitullah - Thonis-Heracleion. Inilah kota legendaris yang tenggelam di dasar Laut Mediterrania 1.200 tahun silam. Kota ini berabad-abad hanya menjadi legenda, sebelum akhirnya ditemukan pada tahun 2000.
    Dikutip Dream dari laman Mirror, Selasa 25 November 2014, kota ini ditemukan dalam sebuah survei di pantai utara Mesir. Sejak awal abad ke-21 itu, peneliti sedikit demi sedikit menguak bagian demi bagian kota yang penah hilang itu.
    Arkeolong bawah laut, Frank Goddio, dan timnya menemukan kota ini setelah melakukan penelitian selama tiga tahun. Menurut dia, penemuan ini merupakan awal untuk mengungkap Kota Thonis-Heracleion secara utuh.
    “Kita mungkin harus melanjutkan pekerjaan ini untuk 200 tahun mendatang untuk memunculkan dan memahami Thonis-Heracleion secara utuh,” tutur Goddio


    Salah satu temuan terbaik dari Teluk Aboukir ini adalah patung Ratu Ptolemaic yang terbuat dari batu gelap. Patung ini diduga sebagai representasi dari Cleopatra II atau III, yang berpakaian Dewi Isis.
    Damian Robinson, ilmuwan dari Oxford University, mengatakan kota ini luar biasa. “Kami sekarang mulai melihat beberapa daerah yang lebih menarik di dalamnya untuk mencoba memahami kehidupan di sana,” tutur Robinson.
    “Kami mendapatkan gambaran kekayaan kota ini, seperti perdagangan yang terjadi di sana dan sifat dari ekonomi maritim di periode akhir Mesir,” tutur dia.


    Para arkeolog telah menemukan 64 kapal, koin emas, dan patung raksasa berukuran 16 kaki. Batu bertuliskan huruf Yunani dan Mesir kuno juga telah diangkat ke permukaan.
    Selain itu juga ditemukan patung Hapi, dewa masyarakat Mesir kuno. Patung ini berukuran 5,4 meter dan terbuat dari granit. Batu Dewa Banjir Sungai Nil ini merupakan patung terbesar yang pernah ditemukan, sehingga tempat ini diduga sebagai wilayah yang sangat penting pada zaman dulu.

    Sebelum menghilang, kota ini berada di mulut delta Sungai Nil. Hingga kini para ilmuwan masih belum tahu pasti apa yang menyebabkan kota yang dibangun pada abad ke-8 sebelum Masehi ini tengelam sekitar 1.200 tahun silam.
    Namun salah satu teori menyebut kota ini tenggelam karena terjadi rob atau naiknya air laut ke daratan. Ditambah lagi amblesnya sedimen yang menopang kota ini hingga 12 meter. Teori lain menyebut kota ini musnah karena terjadi bencana alam lain.
    Kota ini diyakini sebagai tempat terdamparnya Paris dan Helen of Troy karena melarikan diri dari kejaran Menelaus yang dibakar api cemburu, sebelum dimulainya perang Troya. (Dream.co.id)

    Menguak Sejarah Tokyo Camii, Masjid Tertua di Jepang

    Uniknya, Masjid Tokyo tidak mengandalkan bantuan dana pemerintah Jepang dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.
    Rindu Ke Baitullah - Tokyo Camii atau Masjid Tokyo adalah salah satu masjid tertua yang dibangun di 1930an oleh migran muslim yang datang ke Jepang. Kala itu adalah masa di mana Jepang kedatangan migran muslim dalam jumlah besar dan masjid pertama mulai didirikan.

    Selain Masjid Tokyo, Jepang juga memiliki dua masjid tua lainnya, yakni Masjid Nagoya dan Masjid Kobe. Masjid Nagoya adalah masjid pertama yang dibangun oleh komunitas muslim di Jepang pada 1931. Sementara Masjid Kobe didirikan pada 1935 oleh migran muslim asal India.

    Masjid Tokyo dibangun oleh migran muslim Tatar yang melarikan diri saat terjadi revolusi komunis di Rusia pada 1930an. Mereka adalah kelompok migran muslim terbesar di Jepang dan membangun Masjid Tokyo pada 1938.

    Uniknya, Masjid Tokyo tidak mengandalkan bantuan dana pemerintah Jepang dalam pengoperasian dan pemeliharaannya.

    Saat renovasi pada 2000 selesai, semua dana ditanggung pemerintah Turki. Tidak hanya sebagai pusat keagamaan, Masjid Tokyo juga difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan pernikahan, peragaan busana, pertunjukkan, pameran dan konferensi.

    Remaja masjid juga aktif di dalam Masjid Tokyo. Yuai International School menyelenggarakan kelas-kelas seperti membaca Alquran, mengenal Islam, karate dan kaligrafi. Sekolah tersebut dijalankan oleh Islamic Center of Japan (IJC), sebuah lembaga muslim yang didirikan pada 1966.

    Jumlah muslim di Jepang belum diketahui dengan pasti. Namun menurut catatan tak resmi, terdapat 70 ribu hingga 120 ribu muslim tinggal di Jepang dan 10 persen di antaranya adalah orang Jepang asli.

    Komite Hak Asasi Manusia untuk PBB mencatat Jepang melakukan pengawasan secara sistematis terhadap warga muslim dan masjid-masjid.

    Pengenalan terhadap Islam dimulai pada awal periode Meiji (1868-1890), saat misi perdagangan dan pertukaran informasi dilakukan dengan Kekaisaran Ottoman dan Timur Tengah.

    Muslim masuk ke Jepang untuk pertama kalinya saat pedagang dan pelaut muslim India dan Melayu bersandar di kota-kota pelabuhan Jepang seperti Yokohama dan Kobe.(dream.co.id)

    Kota Tua Jeddah, Eksotis Tapi `Merana`

    Bangunan-bangunan di Kota Tua Jeddah peninggalan Ottoman tak terawat. Namun demikian, kawasan Jeddah Tua ini masih sangat eksotik untuk dikunjungi apalagi saat senja.
    Rindu Ke Baitullah - Kota Jeddah adalah kota pelabuhan utama di Arab Saudi, didirikan pada tahun 647 M oleh Khalifah Utsman bin Affan yang menyatakan Jeddah sebagai pintu gerbang masuk ke dua Tanah Suci yaitu Makkah dan Madinah.

    Dalam catatan sejarah pada tahun 1516 M perkembangan kota Jeddah menarik perhatian armada ‘Lopo Soares de Albergaria Portugis’ untuk menguasai kota Jeddah. Namun niat itu tidak terlaksana karena pasukan Portugis kalah dengan pasukan Kerajaan Utsmaniyah (Ottoman) dalam pertempuran di Laut Merah.

    Pada masa kepemimpinan Kerajaan Ottoman inilah Jeddah mulai dibangun, termasuk membangun beberapa tembok sebagai benteng perlindungan di beberapa kawasan pintu masuk Jeddah yang masih terkenal hingga sekarang, yaitu : Bab Syarief (tembok gerbang Syarief, kawasan balad) berada disebelah selatan, Bab Makkah (tembok gerbang Makkah, Mecca street) berada disebelah timur, Bab Madinah (tembok gerbang Madinah, Medina street) berada disebelah utara, dan Bab Bahrul Ahmar (tembok gerbang yang langsung menghadap laut) berada di sebelah barat.
    Setelah kerajaan Ottoman jatuh pada tahun 1915, tembok-tembok kokoh pun ikut runtuh. Namun sisa-sisa peninggalan masa kejayaan Turki di Jeddah masih terlihat sampai hari ini. Yaitu perkampungan tua di tengah kota Jeddah, berupa rumah dari tanah dan karang dihiasi balkon kayu, merupakan   satu-satunya peninggalan arsitektur tradisional Hijaz atau Semenanjung Arab bagian barat.

    Kawasan ini dikenal dengan sebutan Jeddah Historical District, dan sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia melalui keputusan World Heritage Committee ke-38 UNESCO di Doha.
    Namun demikian, terlihat kawasan ini belum mendapat perlindungan yang maksimal dari pemerintah Arab Saudi. Tidak ada upaya restorasi ataupun peraturan pemerintah yang melindungi kawasan kota tua ini.
    Sebagai akibatnya, seperempat rumah-rumah di distrik seluas 0,25 kilometer itu telah ambruk, terbakar, atau dihancurkan dalam 10 tahun terakhir karena pemilik rumah tidak sanggup membiayai renovasi yang mahal. Selain itu, iklim yang lembab di Jeddah pun membuat biaya perawatan sangat tinggi.

    Kawasan bangunan yang dulunya merupakan pusat perkantoran dan tempat tinggal pedagang terkaya di Jeddah sudah banyak beralih fungsi. Ada beberapa bangunan yang masih dipertahankan seperti bentuk awalnya, namun banyak juga yang sudah beralih fungsi menjadi pertokoan, permukiman kumuh warga negara asing dan banyak yang sudah dirobohkan ataupun roboh dengan sendirinya.

    Padahal kalau saja kawasan Jeddah Historical District ini dikelola kembali oleh pemerintah Jeddah akan menjadi kawasan wisata andalan dan kebangaan kota Jeddah. Namun demikian, kawasan Jeddah Tua ini masih sangat eksotik untuk dikunjungi apalagi saat senja. (Sumber: Kementerian Agama) (Dream.co.id)

    Masjid-Masjid Bersejarah di Madinah: Masjid Ar-Rayah

    Masjid Ar-Rayah di Madinah, Arab Saudi.


    Rindu Ke Baitullah, Masjid ini berada di atas gunung kecil Ar-Rayah atau Gunung Dzibab, berada dekat di bagian utara Gunung Sila’.

    Diriwayatkan bahwa dinamakan Masjid Ar-Rayah karena pada Perang Ahzab, kubah Rasulullah dipasang di atas masjid itu.

    Masjid Ar-Rayah dinamakan juga dengan Masjid Dzibab karena dinisbahkan pada seorang pria Yaman yang datang ke Madinah pada masa Gubernur Marwan bin Al-Hakam dan membunuh salah seorang pegawai pemerintah. Dia kemudian dihukum mati dan disalib di atas Gunung Dzibab.

    Informasi tentang masjid ini tidak begitu banyak. Di antaranya adalah masjid itu dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz, dihancurkan pada abad ke-3 H, dibangun kembali oleh Gubernur Janbek tahun 845 H.

    Kementerian Wakaf Arab Saudi sangat memerhatikan dan menjaga arsitektur klasiknya agar tetap menjadi simbol sejarah. Panjangnya mencapai 4 meter dan tingginya mencapai 6 meter. Di bagian atasnya terdapat kubah.(Republika.co.id)



    Haji `Tempo Doeloe`

    Rindu Ke Baitullah - Pelaksanaan ibadah haji semakin berkembang dari tahun ke tahun. Tak semudah saat ini. Dulu kala, saat moda transportasi belum berkembang, jamaah haji dari berbagai penjuru dunia harus melakukan perjalanan darat maupun laut.

    Sejumlah foto langka yang menggambarkan pelaksanaan ibadah haji tempo dulu dimuat oleh laman limfeed.com. Dalam foto-foto itu terlihat bagaimana sarana dan prasarana di Tanah Suci masih sangat sederhana.

    Pada tahun 1953, sudah ada jamaah haji yang datang ke Tanah Suci dengan menumpang pesawat terbang. Namun, bandara yang digunakan untuk mendarat juga masih sangat minim fasilitas.
    Sementara, banyak jamaah haji yang terlihat datang dengan menumpang kapal laut. Mereka datang dari berbagai belahan dunia.

    Tak banyak mobil lalu lalang kala itu. Transportasi masih banyak menggunakan kuda maupun keledai. Mal-mal pun belum tumbuh. Hanya pasar tradisional yang mencukupi kebutuhan jamaah haji. (Sumber: Limfeed.Dream.co.id)

Sastra Islami